Minggu, 26 Oktober 2008

MENGENAL BIROKRASI ILAHIYYAH


Birokrasi Ilahiyyah merupakan jalinan hubungan makhluk Allah dengan sosok yang telah ditunjuk-Nya sebagai perantara (wasilah) yang dapat menyampaikan kepada Allah Al-Khaliq. Jalinan Birokrasi Ilahiyyah dimulai pada saat Nabi Adam As sebagai manusia pertama mengawali hirarki Kenabian dan Kerasulan hingga Nabi Muhammad Saw. Setelah Nabi Muhammad Saw jalinan tersebut masih berlangsung hingga kini. Hanya saja saat ini kepemimpinan Birokrasi Ilahiyyah bukanlah kepemimpinan Kenabian yang bimbingannya melalui wahyu, tapi berupa Hikmah Al-Quran.
Allah SWT berfirman: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al-Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Kuasa lagi Bijaksana. (Q.S. Al-Baqarah: 129)
Allah menganugerahkan al Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Q.S. Al-Baqarah: 269)
Landasan Birokrasi Ilahiyyah adalah Al-Quran dan As-Sunnah. As Sunnah merupakan manifestasi (perwujudan) aturan wahyu yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para Khalifah Beliau. Dan setiap Khalifah di setiap zaman yang memiliki legalitas Waratsatul Anbiya untuk melakukan upaya tajdid (pembaharuan) atas pemahaman dan penerapan kedua dasar aturan hukum (Al-Quran dan Al-Hadits). Melalui tajdid (renewal) inilah lahir kaidah-kaidah hukum terbaru sebagai Sunnah Khalifah Rasulullah Saw. Dasar tujuan tajdid adalah menuju kondisi lebih baik dalam berbagai aspek pemikiran, pemahaman, dan pengamalan ajaran Islam.
Keberadaan Birokrasi Ilahiyyah sendiri merujuk kepada figur yang merupakan pewaris para Nabi. Sebagai pemegang tongkat kepemimpinan Ilahiyyah ia memiliki misi untuk menyampaikan nilai-nilai yang Haq dan Shidiq (lurus), kepada seluruh umat manusia. Kepemimpinannya tidak berharap kepada kejayaan dan target-target kesenangan duniawi yang Fana. Sosok kepemimpinannya tidak juga berharap kepada upah atas apa yang telah diusahakannya (laa yas-alukum ajra).
Dengan melalui bimbingan Birokrasi Ilahiyyah, seseorang yang masuk di dalamnya diharapkan dapat meraih keselamatan dan kebahagiaan, itulah keinginan fitrah setiap insan. Nilai keselamatan yang tersirat pada makna ‘Islam’ adalah tujuan utama seorang makhluk yang bergabung dalam Birokrasi Ilahiyyah.
Birokrasi Ilahiyyah bukanlah gerakan untuk meraih kekuasaan semu. Kebijakannya lebih mengarah kepada pembinaan umat untuk meningkatkan kualitas kehambaan seseorang kepada Khaliq-Nya, yakni beribadah dengan benar dan tepat. Birokrasi Ilahiyyah ingin melepaskan makhluk dari jerat duniawi yang menipu, dan menjadikan perangkat duniawi pada dirinya sebagai jembatan untuk beramal dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui jalur yang resmi.
Birokrasi Ilahiyyah mengajarkan umat untuk menerapkan aturan dan perilaku Shidiq, yakni mengawali dengan cara yang Shidiq (benar an tepat), dan mengakhiri segala sesuatu dengan cara yang Shidiq pula. Hal ini sejalan dengan do’a yang selalu disenandungkan dalam Birokrasi Ilahiyyah,
Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuatan yang menolong” . (Q.S. Al-Isra: 80)
Tidak ada paksaan dalam agama ; (Q.S. Al-Baqarah: 256).
Tidak ada paksaan untuk memasuki Birokrasi Ilahiyyah. Suka rela dan lahirnya sebuah kesadaran adalah sikap dasar seseorang berada dalam naungan Birokrasi Ilahiyyah. Oleh karenanya ajaran Birokrasi Ilahiyyah mengembangkan selalu nilai Rahmatan lil ’alamin, yang menghindari intimidasi atau pemaksaan faham kepada orang atau kelompok tertentu. Bahkan kebijakannya melindungi umat yang berkeyakinan berbeda, sepanjang tidak mengganggu perjalanan Dienul Islam di tengah umat.
Kekhilafahan dalam Birokrasi Ilahiyyah saat ini merupakan kategori kepemimpinan Shiddiqin, yakni peringkat kualitas ketaqwaan di bawah para Nabi. Namun demikian, bimbingan Kenabian pada Birokrasi Ilahiyyah masih berlanjut, karena Mandataris Ialhiyyah merupakan pewaris ajaran para Nabi.
Meski figur yang bermartabat Kenabian sudah berlalu Nabi Muhammad Saw mengukuhkan adanya kepemimpinan setelah Beliau Saw wafat,
“Hendaklah engkau berpijak atas Sunnahku dan sunnah Khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan hidayah (setelahku), peganglah kuat-kuat atasnya dan gigitlah dengan gigi gerahammu (biar tidak lepas)”. (HR. Tirmidzi)
Kepemimpinan Birokrasi Ilahiyyah hanya dapat disentuh dan dicium aroma kebijakannya oleh hamba-hamba-Nya yang berjiwa bersih dan bersikap lurus atas jalan Dien-Nya. Bukti-bukti lurusnya ajaran Birokrasi Ilahiyyah tampak pada bukti-bukti lahiriyyah, meski nilai ajarannya masih asing dalam pandangan kebanyakan orang.
Isyarat keberadaan kepemimpinan Ilahiyyah ini dapat diperoleh melalui:
1. Nash Al-Quran dan Al-Hadits, yakni bagi mereka yang memahami seluk beluk pengetahuan Syar’iyyah.
2. Bimbingan Ruhaniyah, termasuk di dalamnya Ru’yatush-Shadiqah (mimpi yang benar). Isyarat ini diperoleh bagi mereka yang diberikan karunia ghaibiyah (alam ghaib). Orang-orang yang shaleh biasanya mudah tersentuh dengan isyarat ruhani yang shahih, sehingga mereka dapat menentukan figur Petugas Allah yang turun pada setiap zaman.
3. Adanya tajdid, sebagai kebijakan terkini yang dapat menjadi pedoman umat membedah berbagai menjawab hal-hal yang mustahdatsat (persoalan-persoalan baru) duniawi dan ukhrawi). Makna tajdid di sini bukanlah mengganti atau mengubah agama, akan tetapi adalah mengembalikan Dienul Islam kepada khithah atau memurnikan ajarannya dari pengaruh-pengaruh batil.
Kepemimpinan Ilahiyyah (Mandataris) tidak memiliki kriteria syarat-syarat yang ditentukan berdasarkan ijtihad para Ulama atau kaum muslimin. Mengapa demikian? Karena Kepemimpinan Birokrasi Ilahiyyah bukanlah kepemimpinan Dinasti (keluarga), dan juga bukan kepemimpinan yang dibangun lewat jalur demokrasi (suara terbanyak), yang bisa diestafetkan secara turun temurun kepada garis keturunan. Mandataris Ilahiyyah adalah benar-benar dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui mekanisme ruhani, yang sering terjadi tanpa adanya saksi lahir.
Perjuangan Birokrasi Ilahiyyah dapat melahirkan kemakmuran bagi suatu negeri manakala penduduknya mengimani keberadaannya. Karena figur Birokrasi Ilahiyyah merupakan kepanjangan tangan Allah, Pemilik Kerajaan langit dan bumi.
Kekokohan jalinan Birokrasi Ilahiyyah ini tidak terukur oleh parameter keilmuan lahiri. Sebab nilai Kerajaan Allah tak bisa tergapai oleh perangkat inderawi.
Di tengah persimpangan umat mencari pemimpin yang menyelamatkan, dan di saat rakyat Indonesia ditawari dan diiming-iming oleh pemimpin semu duniawi, kami mengusung nama Syekh al-Akbar hadir memperkenalkan dimensi kepemimpinan lain, yang lebih luas dimensi dan jangkauannya.
Keberadaan nilai-nilai Ilahiyyah akan membawa umat dan rakyat kepada keselamatan. Rahmat Birokrasi Ilahiyyah menghendaki seluruh manusia melakukan pendekatan fitrah terhadap seluruh aspek kehidupan termasuk pendekatan pemahaman keagamaan. Sebab fitrah manusia diciptakan sama, dan Al-Islam diciptakan selaras dengan fitrah manusia.
Urgensi Pentingnya Pemimpin Umat
Perjalanan manusia dalam kehidupan di dunia ini telah dilengkapi dengan fasilitas ‘buku petunjuk’ dari Allah SWT. Buku petunjuk itu merupakan suatu pedoman atau konsep besar (makro) untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan. Konsep besar ini diturunkan melalui kepemimpinan yang telah dirancang-Nya.
Kalau kita amati, Dienul Islam tidak dibawa hanya oleh Nabi Muhammad Saw saja, tapi telah diusung sejak Nabi Adam As hingga disempurnakan pada masa Nabi Muhammad Saw. Bahkan berkembangnya Islam hingga saat ini menjadi bukti nyata keberadaan para pewarisnya.
Jelasnya Dienul Islam diturunkan disertai pemimpin, pembimbing yang ditunjukkan Allah SWT. Mereka semua hadir di tengah-tengah umat sebagai kepanjangan tangan kebijakan Allah di muka bumi. Pasca Nabi Muhammad Saw, risalah ini tetap berjalan. Allah pertahankan lewat para pewaris-Nya.
Dalam suatu hadits yang panjang Nabi Saw menceritakan bahwa umat terdahulu diturunkan para Nabi di setiap masa hingga kepadaku. Tetapi setelahku tidak ada lagi Nabi. Yang ada adalah para pengganti (Khalifah)ku.
Dari Nu’man bin Basyir Radhyiallaahu ‘Anhu, Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad).
Keberadaan para khalifah di setiap zaman akan terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat. Al-Quran mengisyaratkan:
“Dan bagi tiap-tiap kaum itu ada orang memberi petunjuk” (Ar-Ra’d: 7)
“Di setiap umat itu mempunyai utusan (Allah)” (Yunus: 47)
Keberadaan Dien ini dipertahankan dan selalu diperbaharui oleh pemimpin umat (khalifah) di setiap zaman. Hal ini sebagaimana diisyaratkan sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah membangkitkan setiap abad seseorang yang memperbaharui agama-Nya”. (HR Abu Daud dan Hakim)
Umat Islam yang ditinggalkan oleh masa Kenabian 15 abad yang lampau saat ini terbagi menjadi 2 bagian: (pertama) yang tidak terbimbing, dan (kedua) yang yang mendapatkan bimbingan Mursyid (terpimpin).
Hendaknya umat saat ini mencari pemimpin yang membawanya kepada jalan yang lurus. Sabda Nabi Saw:
Wamam maata bighoyri imaam maata miitatan jaahiliyyah
“Barang siapa yang mati tanpa (mempunyai) seorang imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah”. (HR. Ahmad)
Hadits ini menunjukkan wajibnya seorang muslim mencari seorang pembimbing dalam menjalankan ibadah.
Keberadaan seorang pemimpin yang melanjutkan estafet kepemimpinan setelah masa Kenabian mesti dicari oleh setiap orang yang ingin meraih keselamatan. Bagi yang mengatakan bahwa melaksanakan sholat dan zakat saja sudah cukup tanpa membutuhkan seorang pemimpin dalam ibadahnya adalah keliru.
“Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan ta'atlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (Q.S. An-Nur: 56)
Ayat di atas menunjukkan pentingnya keberadaan pembimbing umat dalam menjalankan syari’at, karena ungkapan ‘taat kepada Utusan Allah’ dalam ayat tersebut disandingkan dengan pelaksanaan ibadah shalat dan zakat.
Yusuf Qardhawi menukil sebuah bait “Mandzumah Al-Yanharah”:
“Kewajiban mengangkat Imam yang adil # adalah ketentuan syara’ bukan ketetapan akal”.
Jika kita berkesimpulan bahwa Dienul Islam sebagai konsep besar yang diturunkan beserta kepemimpinannya, maka pengetahuan-pengetahuan seperti: matematika, fisika, biologi, kimia, dsb. merupakan konsep-konsep pengetahuan yang kecil (mikro). Konsep pengetahuan mikro sendiri memerlukan pembimbing, penuntun yang mengearahkan kepada teori dan aplikasinya. Bagaimana mungkin kita berprinsip bahwa untuk menjalankan konsep mikro perlu seorang pembimbing, sedangkan konsep makro tidak membutuhkannya?
Kita akan mendapatkan kesulitan apabila kita mempelajari satu disiplin ilmu tanpa seorang instruktur / Pembina. Resiko yang lebih besar dan rumit akan muncul apabila kita mempelajari konsep besar (yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan akhirat) tanpa seorang pembimbing.
Umar bin Khathab dalam sebuah khutbahnya berkata:
Tidak sempurna Islam apabila tidak ada ikatan berjama’ah. Tidak dikatakan berjama’ah apabila tidak memiliki seorang imam (pemimpin). Tidak pula berarti kepemimpinan itu apabila tidak ada unsur ketaatan. Dan tidak ada nilai ketaatan melainkan dengan bai’at (janji setia). (Maushu’ah Umar bin Khatthab Ra.)
Islam harus ditegakkan dengan berjama’ah. Konsep berjama’ah dalam peribadatan mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi daripada munfarid (ibadah sendiri). Shalat berjama’ah menurut apa yang diungkapkan dalam suatu hadits lebih utama 27 derajat daripada shalat sendiri. Rasulullah Saw pernah ditahan ruku’nya oleh malaikat Jibril As ketika ada seorang sahabat yang tertinggal shalat Shubuh berjama’ah. Hal ini menandakan bahwa betapa pentingnya shalat berjama’ah.
Berjama’ah pun tidak berarti jika tidak memiliki seorang imam (pemimpin). Diibaratkan apabila sekumpulan orang telah siap melakukan shalat berjama’ah hingga beratus bahkan beribu-ribu shaf, tidak ada artinya jika di depannya tidak ada seorang imam. Berjama’ah harus ada seorang imam. Adanya makmum menghendaki adanya seorang imam. Jumlah imam pun harus satu, bukan lebih dari itu.
Imam tidak pula berarti jika tidak ditaati. Sebagai contoh adalah pada waktu shalat berjama’ah, gerakan shalat imam harus diikuti oleh makmum di belakangnya. Adalah tidak sah nilai berjama’ahnya itu apabila seorang imam sedang sujud, sedangkan makmum tetap pada posisi ruku atau berdiri (yakni tidak mengikutinya).
Ketaatan harus diikat melalui perjanjian (untuk mengikuti imam). Seseorang yang hendak shalat berjama’ah, mesti menancapkan dalam hatinya untuk berniat mengikuti imam. Niat inilah yang dikatakan sebagai ikatan hubungan kerja antara makmum dengan imam. Apabila dalam hatinya tidak berniat mengikuti imam, maka batallah berjama’ahnya. Demikian pula seseorang apabila mengikuti seorang pemimpin, pemimpin mesti mengetahui I’tikad dan kesungguhan orang yang ingin mengikutinya. Sebab hubungan tanpa ikatan kerja adalah hubungan yang tidak bermakna apa-apa, karena tidak mempunyai unsur tanggung jawab di dalamnya.
Kepemimpinan seluruh Rasul Allah diangkat oleh Allah SWT, tidak seperti kekuasaan Insaniyyah yang dibangun melalui kepercayaan kebanyakan manusia (demokrasi).
Kepemimpinan Ilahiyyah, yakni para Nabi dan Pewarisnya dibentuk melalui suatu proses ujian yang hanya Allah saja yang mengetahui hasilnya. Petikan ayat berikut membuktikan hal itu:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". (Q.S. Al-Baqarah: 124)
Proses ujian yang diberikan Allah SWT menyebabkan munculnya sifat keteguhan dalam kesabaran pada diri orang-orang pilihan. Dan Allah memilih para Utusan-Nya dengan kriteria-kriteria yang dikehendaki-Nya, meski para Utusan-Nya itu disukai atau tidak oleh umatnya. Sejarah mencatat bahwa pengikut setia Nabi Isa As hanya berjumlah 12 orang, yang disebut dalam Al-Quran sebagai kaum Hawariyyun. Begitulah keadaan para Pewaris Nabi di setiap zaman. Para pewaris inipun diangkat oleh Allah SWT lewat ruhani Rasulullah Saw (istikhlaf / mandat). Inilah yang dinamakan kepemimpinan yang dibangun oleh Allah SWT. Istilah orang yang terpilih adalah ‘Al-Mushthofa’. Seperti yang dikemukakan dalam Surat Fathir:
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, …..” (Q.S. Fathir: 32) Jangankan perjalanan dunia – akhirat, dalam perjalanan (musafir) jarak pendek saja di dunia memerlukan guide (penunjuk jalan).
Di sisi lain perjalanan kehidupan manusia hari demi hari semakin besar tanggung jawabnya. Pada awal kehidupan seorang manusia di muka bumi, ia cukup mengandalkan tangis untuk menghendaki berbagai kebutuhannya berupa makan, kehangatan, kenyamanan, dsb. Karena manusia pada mulanya (bayi) begitu lemah, dan sangat rendah nilai tanggung jawabnya.
Perjalanan waktu menyebabkan manusia tidak dapat mengubah arah waktu ke belakang atau diam. Masa terus bergerak ke depan, dan apapun yang berada di hadapannya manusia tidak bisa menghindar. Ia tidak mampu mengelak dari tanggung jawab yang bertambah terus semakin hari. Belum termasuk waktu-waktu ‘istimewa’ yang akan kita jalani seperti sakaratul maut, alam barzakh, padang mahsyar, hingga mengahadap Allah SWT. Perjalanan yang senantiasa diiringi nilai tanggung jawab yang besar ini akan menyentuh puncak penderitaan manakala tidak ada seorangpun yang mau menjadi penolongnya. Penolong (Sulthan Nashiro) di sini adalah seorang pemimpin.
Jika Anda bertanya, lewat pintu gerbang manakah kita dapat masuk kepada bangunan kepemimpinan Ilahiyyah. Al-Idrisiyyah, jawabannya.
Al-Idrisiyyah hanya merupakan sebuah nama untuk memudahkan Anda menuju kepemimpinan dalam Birokrasi Ilahiyyah. Yayasan Al-Idrisiyyah hanya ‘tangan operasional’ kepemimpinan dimaksud.
Kami menyampaikan apa yang telah kami terima, berupa Haq (kebenaran). ‘Dan kebenaran adalah dari Tuhan, maka janganlah kita menjadi orang-orang yang ragu’. (Q.S. Al-Baqarah: 147)
Memaknai Kepemimpinan
“Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya” demikianlah potongan sebuah sabda Nabi Saw yang mengisyaratkan bahwa setiap orang tidak lepas dari bingkai kepemipinan dalam hidupnya. Tidak keliru rasanya bila dikatakan: orang yang bujangan (belum berkeluarga) adalah pemimpin juga.
Syekh al-Akbar Muhyiddin Syekh Muhammad Daud Dahlan Ra. mengungkapkan di sebuah majelisnya, “Orang yang mengerti kepemimpinan adalah orang yang dapat memposisikan dirinya ketika ia memimpin atau dipimpin”.
Lihatlah bangsa yang terbelenggu, mereka hanya mengerti bagaimana meraih kekuasaan atau kepemimpinan. Mereka tidak mau tahu bagaimana menjadi orang yang dipimpin. Tidak ada pemimpin jika tidak ada yang mau dipimpin. Seorang muballigh kondang pernah menyatakan di depan ribuan massa fans-nya, ‘Saya berdiri di sini karena ada yang mau mendengarkan. Meskipun ceramah saya hebat luar biasa, suaranya membahana dan menggelegar, tapi tidak ada artinya jika tidak ada yang mendengarkannya’.
Orang yang tidak cermat memimpin atau tidak mau dipimpin adalah orang yang tidak mengerti arti sebuah kepemimpinan. Kita bisa menengok sejarah umat terdahulu. Para Nabi dan Utusan banyak yang dimusuhi bahkan mereka ada yang dibunuh. Hal demikian karena mereka tidak mengerti arti kepemimpinan.
Orang yang tidak mengerti arti kepemimpinan, akan sia-sia mendengar ribuan firman suci yang menjanjikan ‘akan datang seorang pembebas dari ketidakadilan’, ‘akan muncul seorang penolong dari keterpurukan’, ‘akan datang seorang yang meneruskan kepemimpinan umat’, dan seterusnya. Semuanya tidak ada artinya, semua kabar gembira itu akan tertelan oleh kebodohannya akan makna kepemimpinan.
Sebuah hadits mengungkapkan betapa eratnya hubungan nilai ketakwaan seseorang dengan ketaatan dengan seorang pemimpin, “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, hendaknya kalian (mau) mendengar dan taat, meskipun budak hitam legam yang memerintahmu (menjadi pemimpinmu)” [H.R. Thabrani].
“Apabila diangkat untuk memimpin kamu seorang budak yang terpotong hidungnya – say (Yahya bin Hushain) mengira, dia (Ummu Hushain) berkata - yang hitam, selama memimpin kamu dengan kitab Allah maka dengarlah dan taatilah (HR.Muslim dari Yahya bin Hushain).
Hadits di atas merupakan peringatan bagi kita semua terhadap pilihan pahit sebuah kepemimpinan yang ditetapkan Allah [bahwa kelak umat Islam akan dipimpin oleh orang yang tidak mereka sukai].
Namun kerap kali umat manusia senang mengulang sejarah nenek moyangnya, dengan menolak kahadiran pemimpin yang menurutnya tidak sesuai dengan ‘selera’ mereka. Demokrasi (suara terbanyak) meluluhlantakkan kehadirannya, dan pemimpin yang dipilihnya sendiri melalui demokrasi pun diganggu kepemimpinannya.
Bagaimana negeri ini mau menerima pemimpin yang dipilih oleh Allah sedangkan kepemimpinan yang dibangun dan dipilihnya sendiri mereka gugat!
Apabila mereka tidak berhasil menjadi pemimpin, maka mereka berniat menjadi oposisi (korektor)nya. Tidak ada ungkapan, ‘jika Anda menjadi pemimpin, saya rela untuk dipimpin!’. Sampai kapanpun orang yang tidak memahami makna kepemimpinan tidak akan mendapatkan kepemimpinan yang hakiki.
Perbedaan Itu Rahmat?
Perbedaan adalah satu hal yang Sunnatullah. Tetapi apakah perbedaan itu suatu hal yang harus dipertahankan. Pada kenyataannya perbedaan kerap kali menimbulkan gejolak di tengah kehidupan manusia bahkan menimbulkan bencana lebih besar yang menyebabkan kerugian tidak sedikit, baik moril maupun materil.
Demikian juga dengan kita umat Islam, perbedaan-perbedaan tampak begitu mencolok, sehingga menimbulkan sikap-sikap konfrontatif antar sesama umat Islam, sikap-sikap egois yang berlebihan, membuat perpecahan begitu terasa.
Islam yang kita terima hingga detik ini adalah Islam hasil pecah belah, sejarah telah mencatat bahkan selama 1500 tahun sejak ditinggalkan oleh Nabi Muhammad Saw. Perpecahan itu sebetulnya sudah terjadi di kalangan pada sahabat, sehingga generasi-generasi berikutnya mengalami krisis perbedaan mengakibatkan pecah belahnya umat ini.
Ada 5 (lima) hal yang menjadi pemicu perpecahan di kalangan umat Islam:
1. Krisis Leadership (kepemimpinan) umat Islam saat ini tidak mengetahui dengan pasti siapa yang menjadi pemimpinnya yang memiliki peran ganti setelah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Padahal Al-Quran telah menginformasikan bahwa tugas kepemimpinan atau Kerasulan terhenti hingga akhir zaman, al-Hadits-pun demikian. Isyarat tentang adanya kepemimpinan Islam yang merupakan kebijakan Birokrasi Ilahiyyah serta tentang bukti-bukti adanya kepemimpinan begitu banyak, akan tetapi umat Islam seakan-akan dihadapkan pada didnding yang sangat tebal, sehingga tidak dapat menjangkau kebenaran yang telah Allah tampakkan di hadapan mereka yang pada akhirnya terpecahlah umat dengan membawa masing-masing pendapat. Ada yang peduli dan terus mencari, tapi ada yang tidak peduli karena hijab yang begitu tebal baik terhijab oleh ilmu, harta dan kedudukan mereka.
2. Krisis Disintegrasi, karena perpecahan yang dibangun oleh sejarah serta adanya aksi-aksi kolonialisme yang datang dari pihak-pihak kafir yang ingin menguasai negeri-negeri ini mengakibatkan para pemimpin umatpun terpecah. Banyak ‘kerajaan-kerajaan’ kecil bermunculan berupa lembaga-lembaga Islam yang dibangun oleh para Ulama yang secara nyata terpecah akibat perbedaan mereka dalam menjalani Dienul Islam yang pada akhirnya terwarisi pada generasi-generasi berikut hingga kita saat ini. Tiap Golongan-golongan merasa benar dengan apa yang ada pada diri mereka.
3. Krisis Ilmu. Kesimpangsiuran pemahaman ajaran Islam begitu jelas terlihat. Sebagian berpendapat bahwa ajaran Islam hanya pantas dipelajari oleh orang-orang khusus, artinya dari kalangan-kalangan pesantren. Ada pendapat lain bahwa jangan terlalu dalam mempelajari agama, yang akan mengakibatkan rusaknya mental dan dikucilkan di tengah-tengah masyarakat. Kebijakan Dienul Islam seakan-akan terbatas/sebatas yang dicontohkan oleh para Nabi hingga Nabi Muhammad dan para sahabat, sehingga manakala terjadi datangnya kebijakan-kebijakan berikutnya bila tidak ada catatan-catatan yang dicontohkan dalam masa-masa awal tumbuhnya Islam. Maka umat akan saling menuding satu sama lain, padahal kebijakan Islam tidak terbatas hingga akhir zaman kebijakan Dienul Islam berlaku untuk masa lalu, masa kini hingga masa yang akan datang.
4. Krisis kepercayaan umat terhadap syari’at Islam. Dienul Islam adalah jalan keselamatan. Setiap kebijakannya akan senantasa membawa keselamatan baik di dunia hingga akhirat kelak. Umat Islam banyak yang berpendapat bahwa syari’at Islam adalah belenggu yang membatasi mereka. Dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa banyak ayat-ayat Allah yang sudah tidak sesuai dengan zaman. Sungguh suatu hal yang sangat memperihatinkan kebijakan-kebijakan Birokrasi Ilahiyyah yang dituangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadits serta hikmah-hikmah dari orang-orang pilihan Allah telah banyak ditinggalkan. Padahal syari’at Islam adalah kebijakan global, tidak hanya mengatur masalah ritual peribadatan semata, tapi berbagai aspek kehidupan, karena Dienul Islam adalah solusi yang telah Allah turunkan untuk keselamatan umat manusia.
5. Krisis ekonomi. Kesenjangan ekonomi serta status sosial mengakibatkan kecemburuan yang akhirnya memunculkan sikap saling berlomba untuk membangun status diri. Manakala terjadi kekecewaan akan menyulut api kedengkian yang akhirnya timbullah kajahatan, sikap anarkis, kebencian terhadap individu, golongan, agama, bahkan negara lain, sehingga Islam yang seharusnya menjadi solusi tidak timbulnya perdamaian di tengah manusia dipakai sebagai baju untuk melaksanakan kepentingan pribadi seseorang atau suatu golongan untuk melakukan teror, maka yang terjadi dendam dan kebencian begitu jelas dan dapat kita rasakan saat ini.
Allah telah menjawab pertanyaan yang timbul atas kebingunagan kita dalam melihat situasi seperti ini,
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksaan yang berat”. (Ali Imran: 105).
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka berpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (Al-Mu‘minun: 52-54)
Di sini jelas sekali perbedaan adalah sebuah ancaman dari Allah, umat bersikukuh dengan bunyi hadits bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Akan tetapi pada kenyataannya pecah belah terus berlangsung. Akibat kesombongan manusia untuk tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Penutup
Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanah. Seorang pemimpin bangsa hakekatnya ia mengemban amanah Allah sekaligus amanah masyarakat. Amanah itu mengandung konsekwensi mengelola dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan harapan dan dan kebutuhan pemiliknya. Karenanya kepemimpinan bukanlah hak milik yang boleh dinikmati dengan cara sesuka hati orang yang memegangnya.
Oleh karena itu, Islam memandang tugas kepemimpinan dalam 2 tugas utama, yaitu menegakkan agama dan mengurus urusan dunia. Sebagaimana tercermin dalam do’a yang selalu dimunajatkan oleh setiap muslim: “Rabbanaa atinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-akhiroti hasanah” (Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat). Itulah 2 peran Khalifah dalam Islam, yang pertama bersifat Rasyidin (kebijakan vertical), dan kedua bersifat Mahdiyyin (kebijakan horisontal).


***********************************************

Hidup tidak pernah membatasi, tapi kita lah yang selalu membatasi hidup.
Ayat-ayat Allah tidak dibatasi oleh kitab-kitab suci atau pun Hadist,tetapi kita lah yang selalu membatasi ayat-ayat Allah.
Tak ada Ilmu mengenal Allah sebaik Ilmu Rasa, maka belajarlah Ilmu Rasa (Tasawuf)!

Tidak ada komentar: