Selasa, 28 Oktober 2008

KENAIKAN BBM

KENAIKAN BBM
CERAMAH HARI AHAD, 25 MEI 2008SYEKH AL-AKBAR MUHYIDDIN SYEKH AL-AKBAR MUHAMMAD DAUD DAHLAN RA
.أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ للهِ وَحْدَهُ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلىٰ مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ, وَعَلىٰ ألِهِ وَصَحْبِه وَمَنْ وَالَاهُ, أَمَّا بَعْدُ: رَبِّ أَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِيْ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَّصِيْرًا. وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hadirin Hadirat yang berbahagia,Kehidupan Dunia Yang FanaKehidupan dunia yang dibandingkan dengan kehidupan yang dijanjikan oleh Allah (akhirat) diisyaratkan sebagai kebijakan Rahman dan Rahim-Nya. Ar-Rahman itu adalah suatu karunia atau nikmat yang dilimpahkan oleh Allah, diminta atau tidak diberikan kepada seluruh makhluk-Nya, terutama manusia. Apakah ia iman atau tidak, taat atau tidak. Siapa saja yang telah dilimpahkan kehidupan, Allah akan memberikan rizki atasnya. Allah juga memberikan petunjuk. Petunjuk-Nya bukan hanya sebatas petunjuk tentang kehidupan dunia semata, tapi juga akhirat. Kehidupan dunia garis besar kebijakannya dilambangkan sebagai kebijakan Ar-Rahman. Adapun kebijakan kehidupan yang abadi merupakan kebijakan Ar-Rahim. Ar-Rahman merupakan suatu nikmat atau karunia yang nilainya sedikit. Yang sedikit ini dibagi-bagikan dan sekaligus diperebutkan oleh makhluk-Nya, khususnya umat manusia. Masing-masing golongan (kelompok) baik yang iman maupun kafir berlomba-lomba ingin memonopolinya, ingin menjadi penguasa dan berjaya. Padahal nikmat dunia (sebagai kebijakan Ar-Rahman) itu akan fana. Arti fana adalah punah, hancur atau binasa. Baik sempat kita nikmati atau tidak semuanya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak berguna. Wujudnya berubah dari bermanfaat menjadi tidak bermanfaat. Misalnya kita mempunyai beras, lauk pauk, minyak goreng, dsb. Setelah kita nikmati, setelah berproses berubah menjadi kotoran. Kalau tidak kita gunakan akan berkurang nilainya, beras menjadi tengik dan berkutu, minyak goreng menjadi anyir, lauk pauk menjadi basi, dst.Benda mati pun demikian. Dipakai atau tidak akan menjadi rusak (fana). Kalau kita mempunyai mobil atau motor tapi tidak digunakan, kita simpan di gudang. Akhirnya menjadi karat (rusak). Dan bila digunakan terus menerus mesinnya menjadi aus.Kalau kita percaya dunia ini akan fana, mengapa kita betah hidup di dunia? Mengapa sih berebut terus urusan dunia? Ditawari oleh Allah nikmat yang lebih agung kok susah amat? Ditunggu-tunggu masjid penuh, nggak penuh-penuh juga nih masjid! Kira-kira, kalau langsung dibayar kontan, apakah lebih memilih datang duluan atau belakangan? Kalau tahu rahasia yang akan Allah berikan dalam majelis ini, mau datang duluan atau belakangan?Keluasan anugerah Ar-Rahman itu tidak akan mampu kita menikmatinya. Klimaks dari anugerah Ar-Rahman itu menyebabkan kita tidak berdaya menerimanya. Ibaratnya seperti makan kekenyangan. Ar-Rahim merupakan kumpulan dari gugusan anugerah Ar-Rahman yang tak terhingga. Nilai Ar-Rahim yang dijanjikan Allah inilah yang mesti kita perjuangkan.Seseorang yang tergiur dan terobsesi dengan nilai yang dijanjikan Allah itu akan termotivasi bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk meraihnya. Tentu ia akan datang di awal waktu, tidak di akhir waktu. Jika keinginannya ingin yang mudah terus, bukan ibadah namanya!
************Kehidupan akhirat merupakan suatu nilai kebijakan yang berada dalam genggaman Kekuasaan Allah, Al-Khaliq, yang menciptakan segala makhluk-Nya termasuk manusia. Apakah makhluk mampu menilai Keagungan dan Perbuatan Khaliqnya? Jika boleh mengambil sample (ibarat), sebuah cangkir adalah ciptaan dan manusia adalah penciptanya [Menurut ketentuan Aqidah kita tidak boleh membandingkan Al-Khaliq dengan benda apapun di dunia ini. Namun sebagai ibarat boleh-boleh saja untuk memudahkan qiyas (logika) pemahaman]. Menciptakan dan mengolah itu berbeda. Menciptakan adalah mewujudkan sesuatu dari ketiadaan. Sedangkan mengolah adalah mewujudkan sesuatu dari sesuatu yang telah ada materinya. Misalnya membuat sambal bukan dikatakan menciptakan sambal, tapi mengolah sambal. Usaha meracik bukan menciptakan.Allah SWT sendiri mengungkapkan perbuatan dalam mewujudkan sesuatu dari sesuatu yang belum ada menggunakan kata 'menciptakan' (خلق). Sedangkan untuk sesuatu yang telah ada dengan menggunakan 'menjadikan' (جعل). Firman Allah:"Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang lebih mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mengetahui lagi Mengenal". (Q.S. Al-Hujurat: 13)Setelah Allah menggunakan kata 'menciptakan' (خلق) pada ayat itu, kemudian Allah menggunakan kata 'menjadikan' (جعل). Artinya: memproses, meracik, membentuk. Berbeda dengan arti 'menciptakan' yang berarti mewujudkan sesuatu dari ketiadaan sebelumnya. Itulah tata tertib bahasa yang dibangun dalam Al-Quran al-Karim.
************Masalah Kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak)Sekarang ini kita saksikan banyak aksi demonstrasi meminta untuk menurunkan harga BBM. Sampai-sampai mereka menginap berhari-hari, merusak fasilitas kehidupan. Mereka mengatasnamakan rakyat dengan slogan-slogan 'Mahasiswa adalah suara spiritual rakyat'. Kapan mahasiswa menandakan kesepakatan untuk mewakili rakyat Indonesia? Seenaknya mereka menyatakan bahwa mereka mewakili Rakyat tanpa melalui kesepakatan dengan Rakyat!! Segala sesuatu itu mesti melalui perjanjian mufakat di atas kertas. Apakah perbuatan merusak fasilitas negara dan rakyat itu dikatakan sebagai 'mewakili rakyat?!'Kalau Anggota DPR dan Presiden, apakah kita sebagai rakyat sudah ada kesepakatan dengan mereka? Tentu sudah, dengan melakukan proses demokrasi melalui Pemilihan Umum. Tapi kalau mahasiswa, kapan mereka mengadakan kesepakatan kerja yang menghasilkan komitmen bahwa mereka adalah mewakili suara rakyat? Bagaimana kita memilihnya, pemikirannya saja kurang cermat.Kenaikan suatu komoditas, adalah merupakan suatu proses alamiah. Apalagi komoditas kebutuhan manusia itu terbagi 3 (tiga). Pertama, ada yang bisa diproduksi ulang dan ditingkatkan jumlah dan kapasitasnya. Kedua, ia tidak berkurang dan bertambah. Ketiga, komoditas yang selalu berkurang dan tidak bisa bertambah lagi. Ketiga-tiganya sepanjang kepemimpinan siapapun akan naik, walaupun SBY yang pimpin negara ini, walaupun Wiranto, walaupun Megawati, bahkan Gus Dur naik lagi! BBM dan sembako akan selalu naik!Dari dulu demo 'turunkan harga', 'turunkan harga', tapi tidak pernah terpenuhi. Harga-harga tetap naik. Kenaikan itu adalah proses alamiah bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhannya. Bagi yang percaya, itu adalah proses sunnatullah, yakni sudah menjadi Qudrat dan Iradat Allah. Apakah kita hidup di satu tempat terus? Apakah kita bergantung kepada orang tua terus?Pertumbuhan penduduk apakah tidak semakin bertambah? Jika bertambah pertumbuhan penduduk, berarti bertambah kebutuhan komoditas. Bertambahnya pertumbuhan membutuhkan pertambahan produksi. Tidak ditingkatkan saja harga tetap naik, apalagi ditingkatkan. Jika ditingkatkan produksi, berarti bertambah pula biaya produksinya. Itu komoditas yang bisa diproduksi ulang.Ada komoditas yang tidak bisa ditambah dan dikurang. Seperti tanah, tidak berkurang atau bertambah. Nilai jualnya terus menerus naik. Yang tadinya murah kemudian menjadi mahal.Kalau BBM (Bahan Bakar Minyak), yang diambil dari perut bumi. Karakteristiknya sebagai energi fosil. Kalau digunakan apakah semakin berkurang atau bertambah? Bisakah ditingkatkan? Bisakah diproduksi ulang?!Komoditi yang bisa diproduksi ulang saja memiliki kecenderungan naik harganya apalagi yang selalu berkurang (tidak bisa diproduksi ulang)!! Kenaikannya adalah pasti dan mutlak!!Apakah ketentuan kenaikan harga BBM itu merupakan kebijakan SBY? Atau pengaruh globalisasi dunia (kehidupan)? Karena Pejabat Pemerintah tidak mampu memberikan penjelasan yang fokus dan tidak menimbulkan ketegasan kepada rakyatnya, akhirnya penjelasannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.Penyelenggaraan pemerintahan sekarang ini dengan adanya kebijakan memperbolehkan setiap warga negara menyampaikan pendapatnya di tempat umum adalah suatu kebijakan yang keliru. Hal itu membuktikan bahwa yang menjadi pemimpin di negara ini dan yang dipimpin sama-sama tidak PeDe. Yaitu sama-sama tidak yakin sebagai pemimpin dan tidak merasa sreg untuk dipimpin sebagai rakyat. Sehingga siap dikoreksi, dikritik dan didemo. Sedangkan tuntutan dalam kehidupan bernegara ingin menjadi bangsa yang maju, makmur sejahtera yang diakui dan dihormati masyarakat dunia. Eh, stabilitas nasional-nya acak-acakan. Di sana-sini demo, perusakan (anarkis), perkelahian antar warga, dsb. Kira-kira, apakah investor mau menanamkan investasi (modal)nya di negara kita dengan keadaan seperti itu?! Maka keinginan untuk menjadi negara yang makmur sejahtera adalah hanyalah mimpi di siang bolong!Jika mereka mau mendengar dan bersandar pada aspirasi Idrisiyyah ini, Insya Allah negara ini akan dibangkitkan. Karena apa yang diajarkan di pengajian merupakan suatu kebijakan yang fitrah. Makhluk yang lahir dengan makhluk yang mati jumlahnya banyak yang mana? Banyak yang makan atau berkurang yang makan? Sementara komoditas berkurang. Kita tidak memihak (dalam perkara BBM) kepada salah satu golongan, apakah pemerintah atau yang berdemo. Tapi kita berpihak kepada Allah SWT. Yang punya neraka dan syurga siapa? Jika kita tidak taat kepada Allah dikemanakan kita? Jika kita taat kepada Allah dikemanakan kita? Jika kita tidak taat kepada negara dikemanakan kita?Kita tidak perlu goncang. Karena semuanya akan naik, BBM naik, sembako naik, bea jasa naik, termasuk gaji jua naik. Dan kembali seperti semula. Bahkan pengemis pun naik penghasilannya. Tukang minta-minta aja sudah tidak mau dikasih uang seratus, mereka menggerutu. Kalau naik semua tidak masalah. Yang menjadi masalah sebenarnya jika BBM naik, yang lain tidak naik! Mengapa pada ribut?!Mengapa kita bodoh sekali. Pantas bangsa ini dari dulu memang maunya dijajah melulu. Pertama dijajah oleh kondisi alam yang memanjakannya. Ditanam saja sebatang kayu, eh tumbuh dan berbuah. Kemudian datang para penjajah. Kita diperbodoh, dimanjakan. Fasilitas umum dibangun di mana-mana. Jalan raya dibangun, Rel kereta api dibangun, dsb. Pendek kata, masyarakat Indonesia tidak usah capek-capek kerja, biarlah mereka yang bekerja! Di satu sisi para penjajah mengambil keuntungan, dan di lain sisi kita dimanja oleh mereka.Akhirnya timbullah iri hati. Berontak ingin merdeka. Diupayakanlah pemberontakan untuk melawan mereka (para penjajah). Alasannya adalah revolusi perjuangan kemerdekaan, padahal sebabnya adalah kecemburuan sosial karena hidupnya sial melulu. Kemudian setelah merdeka masing-masing berebut (posisi). Pada awalnya mereka berjibaku saling berjuang sendiri-sendiri. Teuku Umar berjuang sendiri, Pangeran Diponegoro berjuang sendiri, Patimura berjuang sendiri, Imam Bonjol berjuang sendiri, Sultan Hasanudin juga berjuang sendiri. Apakah berhasil?! …. Padahal mereka semua Islam lho?!. Dalam perjalanan sejarah ketika seluruh bangsa bersatu padu, memilih satu figur yang dipercaya. Senjata pejuang kala itu adalah bambu runcing. Apakah mereka menang melawan penjajah? Menangnya bangsa ini sebab dibomnya Hiroshima dan Nagasaki. Apakah yang mengebom adalah bambu runcing? Yang mengebom adalah takdir Allah! Dengan dibomnya kota tersebut, pemimpin kita kala itu ada peluang untuk menyatakan kemerdekaan. Jadi, merdekanya negara Republik ini disebabkan perjuangan bangsa Indonesia atau Rahmat Allah? Syari'atnya adalah Rahmat Allah. Itulah Rahman dan Rahim-Nya Allah! Apakah mereka semua sudah kembali kepada Allah? Perubahan iklim dan bencana terjadi di mana-mana. Apakah gempa berhenti? Firman Allah SWT: Zhoharol fasaadu fil barri walbahri bimaa kasabat aydinnaas, liyudziiqohum ba'dhol ladzii 'amiluu la'allahum yarji'uun"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang lurus)". (Q.S Ar-Rum: 41)Yang ada sekarang bukan sadar kembali kepada Allah, tapi yang ada ribut melulu! Eh, memaksakan kontribusi untuk memberikan solusi terhadap perubahan iklim.Yang mengetahui perubahan iklim dengan yang tidak banyakan yang mana? Yang mempunyai modal dengan yang tidak banyak yang mana? Yang peduli terhadap perubahan iklim dengan yang tidak banyak yang mana?Ketika Bapak mancing di laut, begitu ditarik pancingnya ternyata berat sekali. (Dikira ada ikan besar yang ketarik), eh.. gak tahunya hanya sampah. Padahal siapa yang betah tinggal di laut? Manusia jarang ada yang betah di laut. Digoyang sedikit saja perahunya saja sudah mabok!Selain itu saat berangkat ke laut membawa bekal, di antaranya air dalam kemasan botol aqua. Setelah di tengah laut sehabis minum, enak saja membuang botol minuman ke tengah laut. Pantas, banyak sampah di bawah dasar laut. Begitu teringat himbauan Presiden negara Republik Indonesia, 'Jagalah kesehatan lingkungan. Janganlah membuang sampah sembarangan!' Akhirnya Bapak membawa bekas kemasan minuman itu ke darat, lalu dibuang ke tempat sampah. Eh, ketika beberapa menit kemudian Bapak melihat tukang sampah membuangnya ke laut lagi! Laa Ilaaha Illallaah! Mau dibilang apa hadirin?! Kira-kira kita mampu memberikan solusi kepada kehidupan ini?Kalau kita percaya kepada Rukun Iman, kehidupan ini bakal kiamat. Itulah gambaran cerita tadi, sampah dari laut dibawa ke darat kemudian dibuang ke laut lagi! Itulah gambaran bahwa kerusakan itu akan terus berlangsung. Sudahlah, kita hidup di dunia ini jangan memasang target, capek! Lebih baik dan utama kita memposisikan diri sebagai Hamba Allah saja. Aman!! Mau jaya atau tidak, mau berubah iklim atau tidak, mau jadi bangsa yang disegani atau tidak, kita berposisi sebagai hamba Allah saja. Selama ini kita maunya menjadi hamba manusia, padahal yang memiliki surga itu Allah!! Jika kita duduk sebagai hamba Allah, duduk di mana saja Insya Allah akan mendapat jaminan dan diselamatkan oleh Allah. Tidak ada pilihan!Jika bangsa ini tidak bersandar pada kebijakan Tarekat Idrisiyyah yang membawa misi Ilahiyyah, niscaya tidak akan mendapatkan solusi.Bagi Allah mudah. Syari'atnya sebuah tongkat, eh begitu dipukul di tengah laut berubah menjadi jalan raya! Kun (Jadi)! Fayakun (Maka jadilah!) Jika seseorang sudah menjadi Abid (hamba) Allah, tentu mudah bagi Allah merubah dan memberikan solusi baginya. Sebab kehidupan ini yang membangun adalah Allah SWT! Apakah Nenek Moyang kita? Ibu Pertiwi? Kapan Ibu Pertiwi membeli tanah air ini dari Allah?! Pantas negara ini tidak akan menjadi bangsa yang dibangkitkan oleh Allah, walau diperingati seabad kebangkitannya.Apakah acara Karnaval kemarin kita memperingati seabad kebangitan nasional secara khusus atau kebangkitan Rahmatan lil 'Alamin? Benderanya Ilahiyyah, bukan Insaniyyah.
************Peran Allah sebagai 'Rabb' dan 'Malik'Allah dalam kehidupan ini memposisikan Diri-Nya sebagai Rabbul 'Alamin, Tuhan alam semesta. Kemudian ketika sampai waktunya di Padang Mahsyar, memposisikan Diri-Nya sebagai Raja, Maaliki Yawmid Diin. Di dunia Allah sebagai Rabb, di akhirat sebagai Malik. Apa yang membedakannya? Rabb atau Tuhan, artinya Pendidik, Pembangun, Pembimbing kehidupan, Pengasuh Iman Islam. Itulah posisi Allah dalam kehidupan dunia, bukan sebagai Penguasa. Kalau Malik atau Raja, kedudukannya sebagai Penguasa. Karakteristik Penguasa adalah membalasi yang benar dan yang salah. Yang benar dibalasi dengan syurga, dan yang salah dibalasi dengan neraka.Maka kita saksikan dalam kehidupan ini, yang iman diberi rezeki dan yang kafir juga diberi rezeki, yang rajin diberi makan dan yang malas diberi makan. Yang shalat tidak langsung diberi ganjarannya, dan yang kafir pun tidak langsung diberi hukuman. Kehidupan ini adalah cobaan.Kullu nafsin dzaa-iqotul mauut, wanabluukum bisy-syarri walkhoyri fitnah, wailaynaa turja'uun"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan". (Q.S. Al-Anbiya: 35)Yang iman diuji, yang kafir diuji, yang taat diberi rezeki, yang tidak taat juga diberi rezeki, yang satu diberi petunjuk dan yang lain juga diberi petunjuk. Itulah sifat-sifat kehidupan Allah dalam kehidupan dunia. Siapa yang rajin maka dilebihkan dunianya, dan siapa yang malas maka dikurangi dunianya. Semuanya tidak ada yang langsung dihukumi oleh Allah. Karena Allah dalam kehidupan dunia bukan sebagai Raja atau Penguasa. Jika saja Allah berkedudukan sebagai Penguasa sebagaimana dalam Republik ini, seperti kelakuan mahasiswa yang melanggar etika dalam kehidupan masyarakat dengan menimpuki rumah orang, merusak fasilitas umum dan tempat belajarnya, maka Penguasa mengambil tindakan dengan menghukum mereka dan memasukkannya ke dalam penjara. Ini adalah karakteristik kebijakan Penguasa. Allah di dunia ini tidak berkedudukan sebagai Penguasa, nanti di Yaumil Qiyamah. Yang melaksanakan sholat diuji dan yang tidak melaksanakan sholat diuji. Sebab banyak yang melaksanakan sholat, tidak istiqamah sholat. Akhirnya, yang beriman tidak konsisten dengan keimanannya dan yang tidak beriman (kafir) tidak konsisten dengan kekafirannya. Ada yang ketika kecil hingga besar tidak tampak keislamannya, tiba-tiba ia mendapatkan hidayah (masuk Islam) dan di akhir usianya husnul khatimah. Ada pula yang tampak sekali kesalehannya, rajin shalat tapi tidak tahunya tukang copet (meskipun namanya Sholeh!).Benarlah firman Allah: Wamal hayatud dun-ya illaa mataa'ul ghurur"Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (Q.S. Ali Imran: 185)Semuanya serba relatif. Kita sebagai manusia kebanyakan ingin yang instan-instan, ingin yang mudah-mudah, segala urusan inginnya yang gampang-gampang, kalau kita sholat inginnya diberi upah, dan yang menzhalimi diri kita segera ditangkap dan disiksa. Orang yang bekerja di sawah setelah sholat melihat lumbung padinya penuh. Itulah kemauan kita.Kalau demikian, kita usul saja sama Allah agar Dia saat ini berkedudukan sebagai Malik, tidak sebagai Rabb. Sehingga sebagai Malik (Penguasa) segalanya dibalasi kontan. Ada yang sholat 2 raka'at dibayar 2 juta, dan 4 raka'at 4 juta. Jika seluruh shalat wajib dilaksanakan dalam sehari semalam maka ia mendapatkan 17 juta (17 raka'at). Belum dengan shalat sunatnya. Tentu ibadahnya semangat. Masjid akan menjadi penuh dan perlu pengamanan yang ekstra. Bila perlu disewa polisi yang cukup untuk menghindari perebutan upah, seperti program bantuan kemiskinan dari Pemerintah (BLT: Bantuan Langsung Tunai). Nah, kira-kira kita datang ke masjid duluan atau belakangan?! Apakah semuanya akan beriman? … Tentu beriman, karena dibayar! Sekarang dengan kondisi seperti itu, orang yang kafir semuanya dimasukin penjara! Kira-kira semuanya kapok (jera) gak?! … Tentu mereka akan kapok! Dengan kedudukan Malik fid Dun-ya, semua manusia akan beriman kepada Allah. Kalau semuanya beriman, apakah pantas disebut beriman kalau tidak ada yang kafir? Begitu pula dalam kehidupan dunia ini, apakah pantas disebut perempuan jika kaum prianya tidak ada? Apakah pantas disebut manusia jika tidak ada makhluk lainnya?Akhirnya tidak ada evaluasi. Jika tidak ada evaluasi maka tidak ada yang disebut balasan kebaikan atau keburukan. Jika tidak ada balasan maka tidak ada syurga dan neraka. Tidak ada sebutan Ad-Dun-ya mazro'atul aakhirah [Dunia adalah ladangnya akhirat, Al-Hadits]Jadi, relevan sekali mengapa Allah memposisikan Diri-Nya sebagai Robbul 'Alamin. Itulah kebijakan Dienul Islam! Jika kita tidak diuji, tidak dituntut bermujahadah dalam segala urusan, mengharapkan segalanya mudah, ingin yang serba instan, ingin dibalas amal kita, … bukanlah semua itu namanya ibadah, bukan pula namanya pengorbanan, bukanlah namanya perjuangan.Ini adalah perjuangan, di mana Allah ingin melihat dan menilai siapa di antara kita yang lebih taqwa di hadapan-Nya. Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa [Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, Q.S. Al-Mulk: 2]. Maka patutlah Allah menjanjikan syurga dan pahala bagi kita semua.Coba kita perhatikan, transaksi yang tata nilainya rendah nilainya berbeda dengan yang tinggi. Transaksi jual beli yang rendah seperti: jual beli pisang goreng, tahu goreng, berbeda dengan nilai yang lebih tinggi seperti jual beli motor, mobil, rumah dsb. Apalagi transaksi untuk negeri akhirat, tidak terukur nilainya dengan apapun di dunia ini. Jual pisang lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan menjual rumah, tapi keuntungannya tidak sama. Kehidupan dunia dan kehidupan akhirat tentu berbeda pula kemudahan dan keuntungannya.Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (yaitu) kalian beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui". (Q.S. Ash-Shaff: 10-11)Berjihadlah di atas jalan kebijakanNya, suka atau tidak suka, ringan atau berat, sesuai zaman atau tidak, sesuai dengan budaya nenek moyang atau tidak, agar terhindar dari siksa yang pedih. Didasari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kita mengetahuinya. Itulah perdagangan yang agung di sisi Allah SWT.Di dunia saja kita sudah membuktikan, ada perdagangan yang nilainya rendah dan ada yang tinggi. Proses perjuangan dalam mencapainya juga ada yang ringan dan ada yang berat. Untuk menjadi seorang dokter berbeda perjuangannya dengan pedagang pisang goreng. Kalau ingin menjadi tukang pisang goreng tidak perlu sekolah, lebih baik malas-malasan, banyak main.Kegagalan itu salah siapa? Salah kita sendiri! Allah telah memberikan peluang dan petunjuk kepada kita. Kita salah memilih. Memilih yang bagus atau yang jelek? Yang tinggi atau yang rendah? Pilihlah berjual beli dengan Allah! Innallaahasytaroo minal mu'miniina anfusahum bi anna lahumul jannah"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka". (Q.S. At-Taubah: 111) Maka, ujiannya berat. Datang ke sini (mengaji), telat (terlambat) atau duluan? Mulai pengajian jam 9, datang jam 9! Selesai mengaji jam 12, selesai jam 12! Datangnya sih terlambat, akhirnya mulainya juga terlambat. Begitu ada pembahasan panjang mengeluh, 'Aduh, kaki udah pegel dan kesemutan nih. Kok, belum kelar (selesai) juga pengajiannya!' Yang ada hanya menggerutu. Padahal sedang dikasih tiket syurga. Dikasih syurga nggak mau, dikasih akhirat nggak mau, dikasih dunia malah berebut. Mending amanah! Kalau tidak amanah bagaimana?!Marilah kita berjuang di jalan Allah (Fii Sabilillah) berkurban dengan harta, dan jiwa raga, Insya Allah kita diselamatkan di dunia dan akhirat. Jadi, tujuan kita masuk ke dalam kebijakan Islamiyyah adalah memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Bukan tujuan mendapatkan syafa'at.Mudah-mudahan seluruh jama'ah Idrisiyyah mendapatkan syafaat dari Rasulullah Saw! ……. Kok, nggak ada yang mengaminkan?! ... [Pada umumnya umat Islam mengaminkan do'a ini]. Syafa'at itu apa? Syafa'at adalah pertolongan. Biasanya yang ditolong itu orang yang selamat atau celaka? Yang celaka itu yang teledor (sembrono) atau yang apik (bagus)? Yang celaka itu adalah yang sembrono dalam menjalankan agamanya? Yang celaka itu masuk neraka. Jadi, mau gak disyafa'ati?Syafa'at yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw itu adalah diperuntukkan bagi umatnya yang berdosa besar. Kita mau menjadi umat yang berdosa besar? Benderanya saja Al-Islamiyyah, yakni keselamatan. Maka, masuklah ke dalam Islam menuju keselamatan dan jangan menuju kecelakaan dengan mengharapkan syafa'at. Siapa yang mengharapkan syafa'at adalah orang yang menanti kecelakaan! Orang yang menanti kecelakaan adalah orang yang lalai kepada ayat-ayat Allah!Nabi Saw bersabda: Syafa'atku diberikan kepada umatku yang berdosa besar. Orang yang berdosa besar itu digiring ke dalam neraka dalam keadaan haus.Laa yamlikunasy-syafaa'ata illaa manit takhodz 'indar rohmaani 'ahdaa"Mereka tidak berhak mendapat syafa'at kecuali orang yang telah mengadakan Perjanjian di sisi yang memiliki kebijakan rahman". (Q.S. Maryam: 87)Kecuali orang yang telah mengambil perjanjian (bai'at). Sebab orang yang tidak berbai'at, Nabi Saw bersabda:Rasulullah SAW bersabda:Wamam maata walaysa fii 'unuqihii bay'atan maata miitatan jaahiliyyah"Siapa yang mati sedang ia tak pernah ada bai'at pada dirinya, sungguh ia mati seperti kematian orang jahiliyyah". (HR. Muslim)Wamam maata bighoyri imaam maata miitatan jaahiliyyah"Barang siapa yang mati tanpa (mempunyai) seorang imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah". (HR. Ahmad)Bagi yang telah berbai'at meskipun ia orang yang durhaka dan kemudian masuk neraka, sekurang-kurangnya akan diselamatkan dengan mendapatkan syafa'at (pertolongan). Dan orang yang dapat memberikan syafa'at itu adalah sebagaimana sabda Nabi Saw: Yasyfa'u yawmal qiyaamati al-Anbiya' tsummal 'Ulamaa tsummasy- Syuhadaa' [Yang memberikan syafa'at itu adalah dari kalangan para Nabi, Al-Ulama dan Asy-Syuhada].Yang disebut Al-Ulama adalah bukan sembarang ulama, sebab arti Ulama bisa disalah artikan sebagai cendekiawan (yang berilmu). Sedangkan cendikiawan tidak hanya di dalam Islam saja, tapi di luar Islam juga ada. Maka yang disebut Al-Ulama itu adalah Ulama tertentu yang diserahi mandat sebagai Khalifah Rasulullah Saw disetiap zamannya. Sedangkan yang dimaksud Asy-Syuhada bukanlah pahlawan nasional, atau pahlawan yang menegakkan dunia, tapi pahlawan yang telah membangunkan syari'at Islam di dalam dirinya. Orang lain tidak berjenggot, ia berjenggot. Kebanyakan orang tidak bergamis, ia bergamis. Sementara orang banyak yang lalai kepada Allah, ia berdzikir. Orang lain banyak yang tidak bersedekah dan berwakaf, ia malah melakukannya. Itulah orang yang syahid. Itulah orang yang selamat.Namun seumpama kita lalai, minimal kalau sudah ada ikatan bai'at (perjanjian) dengan petugas Allah yang disebut Al-'Ulama yang menjadi Pewaris Nabi yang membawa kebijakan Ar-Rahman, niscaya akan mendapatkan syafa'atnya. Yang dimaksud dengan kebijakan ar-Rahman adalah kebijakan untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk umat Islam. Banyak tokoh dan lembaga Islam yang berani mewakili umat Islam dengan gagasan Jihad, tapi kebijakannya hanya sebatas untuk umat Islam saja.Kalau kebijakannya meliputi seluruh umat, yang Islam dilayani, dan yang tidak pun dilayani. Nah, kalau kita lihat petugas DKM Masjid terkemuka di ibukota, raut wajahnya tidak ada senyumnya, tampangnya cemberut, sikapnya kaku, bagaimana bisa melayani umat di luar Islam?Jika Pengurus Masjid tidak mengerti Wajilat Qulubuhum [lihat Q.S. Al-Anfal: 2] maka ia tidak bisa menghadapi persoalan fenomena orang yang sedang berdzikir dengan khusyu' di masjid. Sehingga ia akan menganggap berdzikir dengan jahar (suara keras) dianggap sebagai teriak yang tidak mempunyai nilai dan dianggap bid'ah! Wah, ini kan masjid Manca Negara! Gak boleh teriak-teriak di masjid! … Memangnya kebenaran itu diukur dari Manca Negara! Padahal teriak itu relatif, ada yang haq dan ada yang bathil. Marilah kita berjual beli atau bertransaksi dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, di mana Allah menjanjikan syurga dan memperingati kita akan neraka. Oleh karenanya, marilah kita berbondong-bondong kepada kebijakan Allah, baik urusan dunia maupun akhirat.Tadi saja kita telah mengevaluasi masalah kenaikan BBM, yang ternyata urusan dunia saja kita tidak mengerti apalagi urusan akhirat, yang nilainya tidak terhingga! Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah, dosa-dosa kita diampuni-Nya, baik yang kecil maupun besar, baik yang diketahui atau tidak, yang kita ingat atau tidak, yang lalu atau yang kemudian. Dengan sebab ampunan itu Allah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita, sehingga Allah tidak akan bosan-bosannya memberikan rizki dan nikmat, yang halal dan baik. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk jalan yang lurus, dan memberikan kekekuatan Iman dan Islam, sehingga mampu mencapai keridhaan Allah SWT. Semoga kita semua dikondisikan sebagai hamba-Nya, sebab Allah hanya memperkenankan alam syurga itu hanya kepada hamba-Nya. Mudah-mudahan kita dijadikan hamba Allah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Keberadaan kita menjadi baik untuk diri dan untuk orang lain, selamat untuk diri kita juga selamat untuk orang lain baik iman maupun yang kafir. Semoga kita diluluskan dari cobaan yang kita terima di dunia ini, sehingga kita memperoleh kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah SWT.Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

******************
Hidup tidak pernah membatasi, tapi kita lah yang selalu membatasi hidup.
Ayat-ayat Allah tidak dibatasi oleh kitab-kitab suci atau pun Hadist,tetapi kita lah yang selalu membatasi ayat-ayat Allah.
Tak ada Ilmu mengenal Allah sebaik Ilmu Rasa, maka belajarlah Ilmu Rasa (Tasawuf)!

Tidak ada komentar: