Minggu, 02 November 2008

Sekiranya umat Islam seperti Pelangi

Bermacam perbedaan jalan menuju Ridha Allah adalah suatu Keindahan. Allah lah yang telah menciptakan segala perbedaan karena hal itu menunjukkan sifat Allah yang Kuasa dan yang Pencipta.

Sebagai umat Islam yang banyak memiliki perbedaan pendapat, keyakinan, jalan (tarekat) atau metode dalam mencapai Ridha Allah, marilah memandang setiap perbedaan itu seperti Pelangi.

Pelangi itu terdapat bermacam warna-warna cahaya (baca: golongan-golongan yang berbeda-beda),
Pelangi itu bermula dari arah yang sama (baca:bersumber dari Nabi Muhammad SAW),
Pelangi itu berakhir pada tujuan yang sama (baca:Ridha Allah SWT).
Pelangi itu antara warna/ cahaya satu dengan yang lain (baca:antar golongan) tidak ada yang saling mengganggu, walaupun terhadap warna/ cahaya yang terendah sekalipun.
Warna-warna itu saling berdampingan dengan harmonis dalam suatu perjalanan menuju tujuan yang sama sehingga tampak suatu keindahan bagi yang memandangnya (baca:para non Muslim), hingga boleh jadi akan menimbulkan rasa iri hati kepada Pelangi.

Demikianlah seharusnya sikap yang ditanamkan dalam diri sebagai yang mengaku Islam (berserah diri) dan umat Nabi Muhammad SAW.

Mungkin kita tidak dapat merubah warna-warna menjadi sesuai warna yang kita kehendaki, tapi setidaknya marilah kita melihat persamaannya yaitu tujuan akhirnya menuju mardhatillah.

Sesungguhnya Surga itu bertingkat-tingkat, tiap tingkat di huni oleh ahlinya masing-masing, antara ahli surga tempat terendah sampai tertinggi tidak ada yang saling iri dan saling menjatuhkan. Merekalah para ahli neraka yang iri kepada ahli surga. Maka jika di dunia ada umat Islam yang bersikap buruk kepada umat Islam lainnya, sungguh dia bukanlah ahli surga.


Pelangi itu tampak indah memikat, karena adanya perbedaan warna. Jika hanya satu garis warna yang melintas, akankah menjadi perhatian. Sekiranya seluruh manusia di Bumi tidak ada yang berbuat dosa/kesalahan (baca: satu warna) dan beribadah sepenuhnya kepada Allah, niscaya akan dihancurkan dunia ini dan dibangun dunia baru yang isinya banyak manusia yang berdosa. Karena Allah sangat senang melihat air mata taubatnya seorang hamba, sebagaimana senangnya orang tua melihat anaknya yang masih kecil merengek-rengek menangis agar permintaannya dikabulkan, dan orang tua sangat bangga bila dapat memenuhi permintaannya. Terkadang orang tua tidak langsung mengabulkan, bukan karena tidak mampu melainkan senang memandang Wajah anak yang sedang menangis-meminta-menghiba. DEMIKIAN PULA ALLAH BERBUAT DEMIKIAN TERHADAP DIRI KALIAN WAHAI PARA PENCARI!.

"190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat (dzikir) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka." (Ali Imran.3:190-191)



hudan_ibnul_iman [imanprasojo@gmail.com]


*****************************
Hidup tidak pernah membatasi, tapi kita lah yang selalu membatasi hidup.
Ayat-ayat Allah tidak dibatasi oleh kitab-kitab suci atau pun Hadist,tetapi kita lah yang selalu membatasi ayat-ayat Allah.
Tak ada Ilmu mengenal Allah sebaik Ilmu Rasa, maka belajarlah Ilmu Rasa (Tasawuf)!

Tidak ada komentar: