Sabtu, 08 November 2008

Selalulah bersikap syareat-haqekat

Selalulah bersikap syareat-haqekat

Al-Qur'an yang diturunkan kepada umat manusia pada dasarnya memiliki dua sifat pengajaran, yaitu ajaran untuk urusan dunia dan ajaran untuk urusan akherat. Urusan dunia berkaitan dengan Hukum Syareat, dan urusan akherat dikaitkan dengan Hukum Haqekat. Maka di kehidupan ini hukum syareat dan haqekat adalah saling berdampingan, jika salah satunya tidak ada atau tidak dianggap maka timpanglah kehidupan, dalam hal ini kehidupan manusia itu sendiri.
Dalam diri manusia Hukum Syareat dipahami oleh akal, sedangkan hukum haqekat dipahami oleh hati. Karena itu Allah selalu mengingatkan/mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa dzikir dan tafakur. Dzikir adalah mengingat yaitu Allah sedangkan tafakur adalah merenungkan/memperhatikan/meneliti ciptaanNya, Karena itu tidak ada tafakur Allah karena Allah tidak dapat direnungkan/diperhatikan/diteliti/dipertanyakan, jika ditanyakan hanya dijawab dengan bahwa Allah itu dekat. Demikian pula dengan Hukum Syareat masih memungkinkan untuk direnungkan/diperhatikan/diteliti/dipertanyakan alias bersifat fleksibel, sedangkan hukum Haqekat bersifat mutlak. Dengan tafakur alam semesta, semakin dalam pengetahuannya, semakin rinci penemuannya, maka akan semakin membuat manusia itu semakin merasa tinggi-angkuh atau semakin merasa rendah-hina. Karena itu perlunya tafakur harus selalu didampingi dzikir (ingat) Allah, sehingga manusia itu akan mengembalikan segala sesuatunya kepada Hukum Haqekat yaitu segala sesuatu berasal-kembali kepada Allah yang Al-Adzim, itulah sebab mengapa dzikrullah adalah sebagai obat yang paling mujarab dari berbagai penyakit, karena Sumber penyakit sebagian besar berasal dari tafakur yang salah, pemikiran yang salah-kalut-stress, was-was, khawatir.
Segala permasalahan di dunia jika dikembalikan kepada akal niscaya akan stack-stress-error, sebaliknya jika dikembalikan ke hati segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Misal: coba anda masukkan segala teori dunia seperti perhitungan rumus-rumus fisika dan bayangkan berapa luas bumi yang kita pijak ini kedalam akal, pasti pembuluh2 darah otak anda akan pecah alias strook. Sekarang coba masukkan segala alam semesta ini kedalam hati anda, pasti anda dapat memandang bahwa alam semesta itu hanya seluas genggaman tangan bahkan lebih kecil bahkan semakin sirna. Itulah hati, itulah hukum Haqekat yang bersifat mutlak.
Oleh karena itu, marilah senantiasa menyandingkan syareat dengan haqekat, bila sedang berjalan tafakur tiap kaki yang melangkah, lalu ingat (dzikir) bahwa Allah lah yang menggerakkan kaki, dan sebagainya, itulah maksud dari ayat Allah dzikran-kasiran yaitu Dzikir dengan jumlah yang banyak. Bukan artinya jumlah bilangan bacaan dzikirnya yang banyak, akan tetapi dzikir yang memiliki nilai yang banyak/luas. Misal dzikir sekedar 1 kali mengucap Allah tanpa tafakur hanya akan bernilai 1, bila sambil tafakur maka 1 kali dzikir nilainya sebanyak/seluas apa yang sedang ia tafakurkan.

Rahasia Kekuatan
Alam semesta ini diciptakan untuk umat manusia. Tapi siapakah manusia yang mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan alam semesta ini. Jawabannya adalah Manusia yang mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan dirinya sendiri, singkatnya manusia yang berserah diri. Karena hanya dengan berserah diri kekuatan/ kemampuan itu bisa terwujud. Karena itu Ajaran Allah sesungguhnya adalah ajaran berserah diri yang dinamakan Al-Islam. Kalau disebut Islam saja, berserah diri itu bersifat jamak/luas, karena itu disebut Al-Islam yaitu bersifat khusus/tertentu, maka makna Al-Islam adalah berserah diri yang khusus/tertentu. Itulah sebab ajaran Islam itu untuk seluruh umat manusia karena ajaran Islam adalah fitrah manusia.
Mari buktikan benarkah berserah diri itu adalah rahasia kekuatan. Pertanyaan; ajaran mana yang memiliki jumlah pengikut yang besar dan sukses tanpa ada sikap berserah diri di dalamnya.Dalam penganut suatu agama? Contoh: Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan aliran kepercayaan sekalipun inti ajarannya di dalamnya terdapat ajaran berserah diri.Dalam ilmu tenaga dalam? Contoh: Merpati Putih, Mahatma, Reiki, Taichi, dan sejenisnya tekhnik peningkatan dan penyaluran energi nya dengan cara berserah diri.
Sebab itu para guru-guru atau ahli-ahli tasawuf mereka memiliki lebih besar dan lebih dalam pengetahuannya tentang Al-Islam daripada mereka yang tidak ber-tasawuf, karena mereka telah mampu berserah diri yang sebenar-benarnya, sehingga segala rahasia telah tersingkap karenanya.
Secara teori sikap berserah diri akan memposisikan diri pada posisi netral (nol). Segala sesuatu bila diposisikan netral akan mudah bergerak, berubah, berkembang dan bermigrasi. Misal sebuah mobil yang melaju kedepan tidak mungkin bisa melaju mundur tanpa melalui titik netral alias berhenti walau hanya sekejab. Dalam peyaluran energi seperti tenaga dalam atau listrik tidak mungkin tercapai jika tidak melalui titik netral. Demikian pula para ahli sufi mengalirkan segala macam ilmu-ilmu pengetahuan yang luas dan dalam karena telah mampu menetralisir dirinya atau bersikap berserah diri, karena hanya dengan sikap netral saja ilmu itu dapat mengalir.
Nol = Netral = berserah diri = Islam = fitrah manusia = Sunnatullah.Barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya.Jika tak mampu mengenal diri, carilah guru yang ahli mengenal diri, carilah guru yang mengenal Tuhannya, carilah waliyan muryida (Al-Kahfi.18:17).
Dalam teori fisika Quantum, dikatakan bila sesuatu massa memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya, maka waktu akan berhenti atas massa tersebut, sedangkan wujud massa tersebut menjadi hilang karena telah membaur dengan unsur alam semesta, dan ia dapat berada di berbagai tempat dalam satu waktu. Sampai saai ini belum ada suatu alatpun yang mampu bergerak dengan kecepatan cahaya.
Kecepatan Cahaya = waktu berhenti = nol = netral = berserah diri
Pendapat saya bila manusia yang mampu berserah diri dengan sebenar-benarnya, maka ia sedang bergerak dengan kecepatan cahaya, karena ia dalam posisi netral = nol = waktu berhenti.Bukti pertama adalah Isra' Mi'raj nya Nabi Muhammad SAW dalam waktu yang singkat, tempat tidur beliau masih terasa hangat. Beliu adalah hamba Allah yang berserah diri.Sedangkan lainnya telah dibuktikan oleh para waliyullah (waliyan mursyida(Al-Kahfi.18:17)) yang dirinya mampu berada di berbagai tempat pada waktu yang sama, mampu menembus lapis-lapis langit dan bumi.

*********************
Hidup tidak pernah membatasi, tapi kita lah yang selalu membatasi hidup.
Ayat-ayat Allah tidak dibatasi oleh kitab-kitab suci atau pun Hadist,tetapi kita lah yang selalu membatasi ayat-ayat Allah.
Tak ada Ilmu mengenal Allah sebaik Ilmu Rasa, maka belajarlah Ilmu Rasa (Tasawuf)!

Tidak ada komentar: